Saturday, January 6, 2018

Silsilah Kerajaan Kutai Martapura


Silsilah Kerajaan Kutai Martapura

Kerajaan Kutai Martapura merupakan kerajaan yang bercorak hindu yang berdiri sejak abad ke IV Masehi. Hal ini didapat dari prasasti Yupa yang ditemukan dan berjumlah 7 buah yang menjelaskan mengenai kerajaan ini. Berikut adalah nama-nama Raja yang telah memerintah Kerajaan Martapura sebelum  bergabung dengan Kutai Kartanegara

(Prasasti Yupa di Museum Nasional Jakarta)
  1. Maharaja Kudungga
  2. Maharaja Asmawarman
  3. Maharaja Mulawarman Naladewa
  4. Maharaja Sriwarman
  5. Maharaja Marawijayawarman
  6. Maharaja Gajayanawarman
  7. Maharaja Tunggawarman
  8. Maharaja Jayanagawarman
  9. Maharaja Nalasingawarman
  10. Maharaja Nala Perana Tungga
  11. Maharaja Gadonggawarman Dewa
  12. Maharaja Indera Warmana Dewa
  13. Maharaja Sangga Wirama Dewa
  14. Maharaja Singa Wargala Warmana Dewa
  15. Maharaja Canderawarman
  16. Maharaja Mula Tungga Dewa
  17. Maharaja Nala Indera Dewa
  18. Maharaja Indera Mulia Warmana Dewa
  19. Maharaja Sri Langka Dewa
  20. Maharaja Guna Perana Tungga Dewa
  21. Maharaja Wijayawarman
  22. Maharaja Indera Mulia
  23. Maharaja Sri Aji Dewa
  24. Maharaja Mulia Putera
  25. Maharaja Nala Pendita
  26. Maharaja Indra Paruta Dewa
  27. Maharaja Dharma Setia

Sunday, November 12, 2017

Jam Nii Room Tenggarong

Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan kerajaan yang berada di daerah aliran sungai Mahakam yang mengalami beberapa kali perpindahan ibukota kerajaan. Tenggarong merupakan ibukota terakhir kerajaan sampai sekarang. Bekas-bekas peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura  di Tenggarong masih banyak dan dapat ditemui pada masa sekarang ini, baik itu peninggalan benda-benda pusaka, perhiasan, benda keramik, struktur bangunan bahkan bangunan-bangunan bekas kerajaan masih dapat ditemui. Salah satu struktur yang dapat ditemui dan telah ditetapakan sebagai struktur cagar budaya adalah Jam Nii Room.


Wednesday, November 8, 2017

Tugu Pembantaian Jepang Loa Kulu

Indonesia telah menjadi rebutan bangsa-bangsa asing yang ingin menguasai sumber daya alamnya. Bangsa Eropa dari awal abad ke 17 sudah mulai datang ke Nusantara dan mulai menjajah dan mengeksploitasi sumber daya alam. Bangsa Belanda merupakan yang paling lama bertahan di Nusantara, kurang lebih 350 tahun menjajah bumi Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan akhirnya terhenti setelah kedatangan Jepang yang mengambil alih Nusantara pada tahun 1942.

Jepang awalnya menjadi harapan bangsa Indonesia karena sama-sama berasal dari Asia dan diharapkan  dapat membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah. Jepang sangat membutuhkan sumber daya alam Indonesia untuk membiayai perang dengan sekutu, sehingga Jepang memeras dengan sekuat tenaga sumber daya alam Indonesia dengan menggunakan rakyat-rakyat Indonesia sendiri dengan paksa. Harapan tinggal harapan, ternyata Jepang tidak jauh beda dengan Belanda dalam menjajah Indonesia, bahkan dianggap lebih kejam. Salah satu bukti sejarah kekejaman Jepang masih ada saat ini yaitu Tugu Pembantaian Jepang yang telah menjadi cagar budaya di Desa Loh Sumber  kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.



Sunday, November 5, 2017

Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong

Museum merupakan tempat dimana barang-barang bersejarah dan memiliki arti penting untuk dipamerkan, dipajang dan digunakan sebagai sarana pendidikan dan penelitian untuk mengungkap misteri masa lalu. Museum punya arti penting bagi kehidupan, karena dengan adanya museum, barang-barang yang disimpan akan selalu terjaga dan lestari, sehingga anak cucu kita dapat mempelajari sejarah untuk pelajaran menapaki masa depannya.

Kata museum berasal dari bahasa Yunani yaitu Mouseion yang berarti tempat tinggal para Muse. Muse adalah sembilan anak wanita Dewa Zeus yang memberikan inspirasi pada seniman. Yang kemudian Mouseion tersebut dijadikan nama kuil tempat memuja dewi-dewi tersebut. Pada perkembangannya, mouseion dipakai sebagai tempat penyimpanan hadiah dan persembahan untuk dewa dari para manusia. (Encarta Researher, 2003).



Thursday, October 19, 2017

Penjara Kolonial Sanga-sanga

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya, baik dari segi budaya, maupun sumber daya alamnya. Hal ini yang menarik bangsa asing datang ke Indonesia untuk meneliti budaya dan mendapatkan sumber daya alam semenjak ratusan tahun silam. Sumber daya alamnya yang ingin didapatkan dan dikuasai mulai dari rempah-rempah, kayu, emas hingga batu bara dan minyak bumi. Hasil-hasil bumi inilah yang membuat bangsa asing bernafsu ingin menguasai Indonesia.

Salah satu daerah yang kaya akan sumber daya alam adalah pulau kalimantan, sejak berabad-abad silam, sudah banyak bukti yang menunjukkan kalimantan telah didatangi dan diambil sumber daya alamnya, bangsa Belanda adalah satunya. Belanda sudah datang ke kalimantan dan salah satu daerah yang di datangi adalah Sanga-sanga karena terdapat sumber minyak bumi di daerah ini. Ditemukannya sumur Louise tahun 1897 membuat Belanda menetap dan membangun banyak bangunan di kota ini. Salah satunya adalah Penjara Kolonial yang masih bertahan hingga kini.

Pesona Tari Belian Namang Kedang Ipil

Tari Belian Namang merupakan tari yang berkembang di Desa Kedang Ipil yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tari...