Showing posts with label penggiat budaya. Show all posts
Showing posts with label penggiat budaya. Show all posts

Wednesday, January 2, 2019

Pesona Tari Belian Namang Kedang Ipil


Tari Belian Namang merupakan tari yang berkembang di Desa Kedang Ipil yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tari Belian Namang mempunyai fungsi utama yaitu sebagai ritual dalam upacara-upacara adat yang diadakan di Desa Kedang Ipil maupun di Keraton Kutai Kartanegara saat Erau Adat Kutai berlangsung, ritual yang dilakukan antara lain sebagai sarana berkomunikasi dengan makhluk gaib, ritual tolak bala dan ritual pengobatan.

Penari dalam Tari Belian Namang ini tidak ada ketentuan jumlah penari maupun jenis kelamin, akan tetapi syarat utamanya adalah menguasai memang (mantra)  yang diucapkan sambil menari serta memiliki fisik yang kuat sehingga sepanjang sejarah masyarakat Desa Kedang Ipil tidak pernah ada penari wanita, hanya laki-laki saja yang menari. Memang (mantra) yang diucapkan berbahasa Kutai oleh salah satu sesepuh dan tidak semua orang bisa mempelajarinya karena bahasa dan pengucapannya yang sulit.


Saturday, December 22, 2018

Undang-undang Pemajuan Kebudayaan 2017

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.504 pulau, dari pulau Sabang sampai Merauke,  terletak diantara dua benua besar yaitu Asia dan Australia, terletak di antara dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, menjadikan Indonesia mempunyai letak strategis dalam perkembangan dunia dari masa lampau sampai masa sekarang. Oleh karena itu, banyak sekali bangsa-bangsa dari seluruh dunia yang datang ke Indonesia untuk berbagai tujuan mereka. Hasil interaksi berabad-abad antara bangsa asing dan bangsa indonesia menghasilkan beragam kebudayaan yang telah mengakar di seantero negeri ini.

Kebudayaan di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa dan sangat kaya akan keanekaragaman, kebudayaan juga telah diakui founding father's kita sebagai hal yang penting yang dapat menjadi perekat dan identitas bangsa kita. Hal ini ditunjukkan dengan kebudayaan menjadi salah satu pasal dalam Undang-undang Dasar tahun 1945 yaitu pasal 32 yaitu Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.

Akan tetapi, sampai tahun 2017, Indonesia belum mempunyai Undang-undang yang mengatur tentang kebudayaan yang menjadi penerjemah dari UUD 1945 pasal 32 tersebut. Upaya untuk membuat undang-undang ini sudah dimulai dari tahun 1982 dengan nama Rancangan Undang-undang (RUU) Kebudayaan, akan tetapi selama 35 tahun RUU tersebut barulah di sahkan menjadi Undang-undang pada tahun 2017 dan berganti nama menjadi Undang-undang Pemajuan Kebudayaan yang disahkan tanggal 24 April 2017.

(sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id)


Monday, November 12, 2018

Begasing Kutai

Gasing Kutai atau Begasing merupakan salah satu permainan rakyat yang ada di Indonesia dan menjadi salah satu kekayaan budaya. Gasing Kutai sudah mengakar lama di Kutai dan terus dimainkan selama beberapa generasi. Gasing Kutai sendiri terdiri dari beberapa jenis dan mempunyai bentuk yang berbeda-beda, berikut ini adalah bentuk-bentuk dari gasing Kutai


  1. Gasing Bengor. Gasing khas kutai yang bentuknya agak gepeng. Biasa dibuat oleh masyarakat pedalaman. Gasing ini digunakan untuk mengisi waktu luang sebelum pergi ke ladang atau sebelum membuka lahan. Untuk melemaskan otot-otot yang sudah kencang pada orang terdahulu. 
  2. Gasing Perangat. Gasing khas kutai yang bentuknya pendek atau ceper, dengan tinggi dari 3 cm sampai 5 cm. Gasing ini biasa digunakan dalam lomba gasing beturai, karena putaran gasing lebih lama dari jenis gasing-gasing yang lain. 
  3. Gasing Buong. Gasing khas kutai yang berbentuk seperti buong / guci dengan tinggi berkisar antara 8 sampai 10 cm. Terbuat dari kayu banggeris.Gasing ini sama mempunyai fungsi yang sama dengan Gasing Bengor yaitu untuk mengisi waktu luang sebelum pergi ke ladang atau sebelum membuka lahan. Untuk melemaskan otot-otot yang sudah kencang pada orang terdahulu
  4. Gasing Pelele. Gasing pertama bagi masyarakat Kutai di pedalaman, karena bentuknya seperti buah pelele, buah yang hanya tumbuh di daerah hulu mahakam. Gasing ini tingginya berkisar dari 5 sampai 8 cm.
  5. Gasing Tungkul. Gasing yang berbentuk seperti jantung buah pisang dengan tinggi berkisar dari 12 sampai 20 cm. Sering dibuat oleh masyarakat dayak dan kutai.
  6. Gasing Pendada. Gasing khas kutai yang terbuat dari kayu Banggeris. Kayu yang sangat kuat dan berwarna agak kemerahan. Gasing pendada tingginya berkisar dari 5 sampai 8 cm. Mempunyai 2 kepala yang dapat diputar didua bagiannya masing-masing untuk mengelabui musuh dalam permainan gasing berajaan. 
Sampai saat ini Gasing Kutai masih sering dimainkan oleh masyarakat, terutama pada event-event yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara ataupun event-event yang diadakan oleh komunitas gasing yang ada di Kutai Kartanegara. Semoga permainan rakyat ini tetap lestari dan di terus dimainkan oleh generasi penerus karena mempunyai nilai budaya yang dapat membentuk karakter kita menjadi lebih baik. 

Monday, November 5, 2018

Gasing Berajaan

Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragam budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauku, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Budaya yang beraneka ragam tersebut sering kali di akui oleh negara lain. Hal inilah yang membuat Indonesia harus punya undang-undang khusus yang mengatur tentang kebudayaan yang dapat melindungi, membina, mengembangkan serta memanfaatkan kebudayaan.  Akhirnya, negara Indonesia di tahun 2017 mempunyai undang-undang pemajuan kebudayaan setelah panjang menanti untuk punya undang-undang ini, yaitu Undang-undang nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Undang-undang ini mengatur 10 objek pemajuan kebudayaan yaitu, tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat serta olahraga tradisional. Salah satu yang menjadi objeknya adalah permainan rakyat, salah satu permainan rakyat yang sangat terkenal dan telah mendunia, serta ada di tiap daerah yaitu Gasing.



Tuesday, September 4, 2018

Piadong, Makanan Tradisional di Tanah Kutai

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ratusan suku, bahasa, adat istiadat dan bermacam-macam budaya. Dari Sabang sampai ke Merauke budayanya sangat beragam, berciri khas, berbeda-beda antara satu dengan yang lain, tetapi hal itu lah yang membuat kita jadi satu, yaitu bangsa Indonesia. Tiap daerah mempunyai makanan tradisional yang khas, yang berkembang didaerah tertentu dikarenakan bahan-bahan untuk memasaknya hanya ada didaerah tersebut.

Kutai Kartanegara mempunyai salah satu makanan tradisional yang khas, yang berkembang semenjak ratusan tahun, makanan tradisional ini bernama piadong. Piadong berbentuk segitiga dengan ukuran sekitar 5 cm yang berisi beras ketan yang direbus sampai matang. Daun untuk membungkus piadong merupakan daun khusus yang sekarang semakin jarang ditemukan, nama daun ini adalah daun biru. Daun biru merupakan tumbuhan endemik yang hanya ditemukan di kalimantan.

(sumber : Instagram @kutai_bangkit_)

Makanan tradisional ini dibuat oleh masyarakat Kutai untuk menemani mereka berladang. Pagi hari mereka membuat beberapa piadong kemudian dimasukkan ke dalam anjat, untuk disantap saat mereka mengisi tenaga saat berladang. Akhir-akhir ini piadong sudah jarang dibuat oleh masyarakat Kutai, hanya pada saat acara tertentu dibuat. Salah satunya yang masih membuat yaitu di Desa Wisata Kedang Ipil yng berada di kecamatan Kota Bangun yang masih meneruskan dan melestarikan pembuatan piadong ini dan disajikan pada saat para wisatawan berkunjung ke desa.


Monday, August 27, 2018

Pesta Laut Pesisir Kuala Samboja

Kutai Kartanegara merupakan kabupaten yang ada  di provinsi Kalimantan Timur, sebuah kabupaten yang masih memegang adat dan tradisi budaya, karena telah mengakar lama sejak beberapa abad silam setelah berdirinya kerajaan pertama di nusantara. Secara garis besar, budaya di kabupaten Kutai Kartanegara di bagi menjadi 3 bagian, budaya hulu , budaya kerajaan dan budaya pesisir, yang masing-masing telah berakulturasi , baik dengan pengaruh dari masyarakatnya sendiri ataupun pengaruh dari luar.

Budaya pesisir Kutai merupakan budaya yang berada di pesisir pantai Kutai Kartanegara, daerah pesisir pantai merupakan daerah yang kaya akan  budaya dikarenakan pesisir merupakan tempat  pertama yang didatangi pendatang untuk menetap, berdagang, mencari hasil laut dan sebagainya. Jadi banyak sekali suku bangsa yang ada dan saling berinteraksi, sehingga berkembanglah budaya di daerah pesisir pantai tersebut. Terdapat beberapa kecamatan yang terletak di pesisir pantai, di Kutai Kartanegara yaitu kecamatan Marangkayu, Muara Badak, Muara Jawa dan Samboja.

Kecamatan Samboja merupakan kecamatan yang terletak di paling selatan Kutai Kartanegara, dengan luas wilayah sekitar 1000 kilometer persegi. Kecamatan Samboja memiliki 21 kelurahan, serta disalah satu sisinya berbatasan langsung dengan selat makassar. Salah satu kelurahan yang tepat berada di pesisir pantai yaitu Kelurahan Kuala Samboja, Kuala Samboja merupakan kelurahan yang penduduknya di dominasi oleh nelayan.

Untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, masyarakat setempat yang didominasi perantau dari Suku Bugis, mengadakan Pesta Laut Pesisir, sebuah perayaan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berlimpahnya hasil tangkapan para nelayan berupa hasil-hasil laut seperti ikan, udang dan masih banyak lagi. Pesta Laut Pesisir Kuala Samboja diadakan di bulan Mei



Tuesday, June 5, 2018

Prasasti Yupa

Prasasti Yupa merupakan prasasti yang tertulis di batu andesit berisi huruf pallawa mengenai sejarah Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman di pedalaman sungai Mahakam. Batu andesit sendiri merupakan batuan luar yang terbentuk dari muntahan gunung berapi berupa magma dan akhirnya mengeras terkena air dan udara luar sehingga terbentuklah batu, batuan ini banyak terdapat di aliran sungai. Batu ini kemungkinan didapat dari hulu sungai mahakam atau bisa juga diperkirakan di datangkan dari luar bersama para Brahmana yang menuliskannya.

Prasasti yupa yang ditemukan berjumlah 7 buah, ditemukan pada saat kolonialisme mencengkram bumi kutai, tepatnya pada tahun 1870, 4 buah prasasti yupa berhasil ditemukan, 3 prasasti ditemukan belakangan. Semuanya dibawa ke Jakarta (Batavia pada waktu itu) dan sekarang merupakan koleksi dari Museum Nasional Jakarta. Hanya satu batu yang tertinggal di Muara Kaman yaitu masyarakat menyebutnya lesong batu, bentuknya mirip dengan prasasti yupa yang fungsinya diperkirakan untuk mengikat hewan persembahan.


Thursday, April 26, 2018

Silsilah Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martapura

Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martapura merupakan gabungan dari 2 kerajaan yang berada di Kalimantan Timur, Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil mengalahkan kerajaan Martapura dan menggabungkannya. Berikut ini adalah silsilah dari kerajaan Kutai Kartanegara dari awal hingga bergabung menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martapura


(Keraton Kutai Kartanegara Ing Martapura)

1.  Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325)
2.  Aji Batara Agung Paduka Nira (1325-1360)
3.  Aji Maharaja Sultan (1360-1420)
4.  Aji Raja Mandarsyah (1420-1475)
5.  Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya (1475-1545)
6.  Aji Raja Mahkota Mulia Alam (1545-1610)
7.  Aji Dilanggar (1610-1635)
8.  Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martapura (1635-1650)
9.  Aji Pangeran Dipati Agung Ing Martapura (1650-1665)
10. Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura (1665-1686)
11. Aji Ragi gelar Ratu Agung (1686-1700)
12. Aji Pangeran Dipati Tua (1700-1730)
13. Aji Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martapura (1730-1732)
14. Aji Muhammad Idris (1732-1778)
15. Aji Muhammad Aliyeddin (1778-1780)
16. Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816)
17. Aji Muhammad Salehuddin (1816-1845)
18. Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899)
19. Aji Muhammad Alimuddin (1899-1910)
20. Aji Muhammad Parikesit (1920-1960)
21. Aji Muhammad Salehuddin II (1999-sekarang)
(sumber : kesultanan.kutaikartenagara.com)

Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martapura memiliki sejarah panjang, mulai dari kudeta, perpindahan ibukota kerajaan, belum dewasanya putra mahkota sehingga tahta kerajaan dipegang oleh dewan perwalian, dihapuskan status kerajaanya dan akhirnya dihidupkan lagi untuk melestarikan budaya, kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang harus kita lestarikan dan kita kembangkan nilainya untuk masa depan.


Friday, March 30, 2018

Tuanku Tunggang Parangan

Kutai abad ke 16 dikuasai oleh 2 kerajaan, yaitu Kutai Martapura dan Kutai Kartanegara. Kutai Martapura berada agak jauh di pedalaman sungai Mahakam yaitu di Muara Kaman, sedangkan Kutai Kartanegara pada saat itu masih berada di Kutai Lama, di kecamatan Anggana sekarang. Pusat kerajaan berada di desa Kutai Lama, yang sekarang merupakan wilayah kecamatan Anggana Kutai Kartanegara yang dapat ditempuh selama 1 jam dari pusat kota Samarinda.

Kutai Kartanegara pada rentang tahun 1525 sampai 1589 dikuasai oleh Raja Aji Mahkota, saat itu kerajaan Kutai masih bercorak hindu. Ulama-ulama dan pedagang-pedagang islam sudah banyak yang datang ke Kutai pada saat itu, tetapi Raja Aji Mahkota belum mau memeluk islam. Sampai akhirnya di akhir abad 16 datanglah dua ulama besar yaitu Datuk Ribandang dan Tuanku Tunggang Parangan. Kedua ulama ini gigih dalam menyebarkan agama Islam di bumi kutai, tapi karena satu dan lain hal, Datuk Ribandang harus kembali ke pulau Sulawesi, jadi tinggalah Tuanku Tunggang Parangan yang tetap tinggal di bumi Kutai sampai akhir hayatnya

(dokumentasi pribadi)


Saturday, January 6, 2018

Silsilah Kerajaan Kutai Martapura


Silsilah Kerajaan Kutai Martapura

Kerajaan Kutai Martapura merupakan kerajaan yang bercorak hindu yang berdiri sejak abad ke IV Masehi. Hal ini didapat dari prasasti Yupa yang ditemukan dan berjumlah 7 buah yang menjelaskan mengenai kerajaan ini. Berikut adalah nama-nama Raja yang telah memerintah Kerajaan Martapura sebelum  bergabung dengan Kutai Kartanegara

(Prasasti Yupa di Museum Nasional Jakarta)
  1. Maharaja Kudungga
  2. Maharaja Asmawarman
  3. Maharaja Mulawarman Naladewa
  4. Maharaja Sriwarman
  5. Maharaja Marawijayawarman
  6. Maharaja Gajayanawarman
  7. Maharaja Tunggawarman
  8. Maharaja Jayanagawarman
  9. Maharaja Nalasingawarman
  10. Maharaja Nala Perana Tungga
  11. Maharaja Gadonggawarman Dewa
  12. Maharaja Indera Warmana Dewa
  13. Maharaja Sangga Wirama Dewa
  14. Maharaja Singa Wargala Warmana Dewa
  15. Maharaja Canderawarman
  16. Maharaja Mula Tungga Dewa
  17. Maharaja Nala Indera Dewa
  18. Maharaja Indera Mulia Warmana Dewa
  19. Maharaja Sri Langka Dewa
  20. Maharaja Guna Perana Tungga Dewa
  21. Maharaja Wijayawarman
  22. Maharaja Indera Mulia
  23. Maharaja Sri Aji Dewa
  24. Maharaja Mulia Putera
  25. Maharaja Nala Pendita
  26. Maharaja Indra Paruta Dewa
  27. Maharaja Dharma Setia

Sunday, November 12, 2017

Jam Nii Room Tenggarong

Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan kerajaan yang berada di daerah aliran sungai Mahakam yang mengalami beberapa kali perpindahan ibukota kerajaan. Tenggarong merupakan ibukota terakhir kerajaan sampai sekarang. Bekas-bekas peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura  di Tenggarong masih banyak dan dapat ditemui pada masa sekarang ini, baik itu peninggalan benda-benda pusaka, perhiasan, benda keramik, struktur bangunan bahkan bangunan-bangunan bekas kerajaan masih dapat ditemui. Salah satu struktur yang dapat ditemui dan telah ditetapakan sebagai struktur cagar budaya adalah Jam Nii Room.


Wednesday, November 8, 2017

Tugu Pembantaian Jepang Loa Kulu

Indonesia telah menjadi rebutan bangsa-bangsa asing yang ingin menguasai sumber daya alamnya. Bangsa Eropa dari awal abad ke 17 sudah mulai datang ke Nusantara dan mulai menjajah dan mengeksploitasi sumber daya alam. Bangsa Belanda merupakan yang paling lama bertahan di Nusantara, kurang lebih 350 tahun menjajah bumi Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dan akhirnya terhenti setelah kedatangan Jepang yang mengambil alih Nusantara pada tahun 1942.

Jepang awalnya menjadi harapan bangsa Indonesia karena sama-sama berasal dari Asia dan diharapkan  dapat membebaskan bangsa Indonesia dari penjajah. Jepang sangat membutuhkan sumber daya alam Indonesia untuk membiayai perang dengan sekutu, sehingga Jepang memeras dengan sekuat tenaga sumber daya alam Indonesia dengan menggunakan rakyat-rakyat Indonesia sendiri dengan paksa. Harapan tinggal harapan, ternyata Jepang tidak jauh beda dengan Belanda dalam menjajah Indonesia, bahkan dianggap lebih kejam. Salah satu bukti sejarah kekejaman Jepang masih ada saat ini yaitu Tugu Pembantaian Jepang yang telah menjadi cagar budaya di Desa Loh Sumber  kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.



Sunday, November 5, 2017

Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong

Museum merupakan tempat dimana barang-barang bersejarah dan memiliki arti penting untuk dipamerkan, dipajang dan digunakan sebagai sarana pendidikan dan penelitian untuk mengungkap misteri masa lalu. Museum punya arti penting bagi kehidupan, karena dengan adanya museum, barang-barang yang disimpan akan selalu terjaga dan lestari, sehingga anak cucu kita dapat mempelajari sejarah untuk pelajaran menapaki masa depannya.

Kata museum berasal dari bahasa Yunani yaitu Mouseion yang berarti tempat tinggal para Muse. Muse adalah sembilan anak wanita Dewa Zeus yang memberikan inspirasi pada seniman. Yang kemudian Mouseion tersebut dijadikan nama kuil tempat memuja dewi-dewi tersebut. Pada perkembangannya, mouseion dipakai sebagai tempat penyimpanan hadiah dan persembahan untuk dewa dari para manusia. (Encarta Researher, 2003).



Wednesday, October 18, 2017

Pembekalan Penggiat Budaya 2017

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,,

Postingan kali ini kita akan membahas mengenai pembekalan calon Penggiat Budaya (PB) 2017, pembekalan ini perlu sekali mengingat para penggiat budaya nantinya akan menghadapi tantangan pekerjaan yang cukup berat, karena langsung berhadapan dengan masyarakat, berhadapan dengan alam dan berhadapan dengan birokrasi di bidang kebudayaan, jadi sekali lagi pembekalan ini sangat perlu diadakan untuk mempersiapkan para calon penggiat budaya kedepannya,,

(sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id


Sunday, October 15, 2017

Menjadi Penggiat Budaya (5)

Assalamua'alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh,,

Pada postingan kali ini, kita melanjutkan mengenai perjalanan saya menjadi Penggiat Budaya dari awal pendaftaran sampai lulus tes akhir dan akan ditempatkan di Kutai Kartanegara. Kabupaten yang kaya sekali akan budaya, dari masa lampau, masa sekarang ataupun masa depan, beruntung sekali bisa ditempatkan di kabupaten ini.

Postingan sebelumnya bercerita mengenai seleksi administrasi tahap II, menulis esai dan wawancara online, tahap yang cukup menguras tenaga dan pikiran, karena melengkapi persyaratannya perlu mengurus ke banyak instansi dan jaraknya tidak dekat, sehingga perlu tenaga dan pikiran yang ekstra.

(Sumber : IG @budayasaya Setditjen Kebudayaan)

Thursday, October 12, 2017

Menjadi Penggiat Budaya (4)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh,,

Kembali lagi dalam postingan setelah lama tidak ngepost, kali ini saya akan bercerita kembali mengenai perjalanan menjadi penggiat budaya dan mengenalkan budaya yang ada di kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten yang kaya sekali akan budaya, dari masa lalu, masa sekarang dan maupun masa depan.

Postingan sebelumnya saya membahas mengenai tes online penggiat budaya dengan lika liku pengerjaannya, dan hasilnya sudah diumumkan, semua pengumuman disampaikan melalui email ke masing-masing calon penggiat budaya, jadi hanya individu masing-masing yang mengetahui dia lolos atau tidak ke tahap selanjutnya. dan alhamdulillah saya masih lolos sampai ke tahap selanjutnya. 


Friday, August 4, 2017

Menjadi Penggiat Budaya (2)

Assalamualaikuman Warahmatullahi Wabarokatuh, Salam Sejahtera untuk kita semua, Salam budaya!

Pada postingan kali ini, kembali saya akan membahas mengenai perjalanan menjadi penggiat budaya yang akan ditempatkan di Kabuten Kutai kartanegara, kabupaten yang bersejarah karena di kabupaten ini pernah berdiri 2 kerajaan yang menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia karena salah satu kerajaannya sudah berdiri pada abad ke IV Masehi jauh sebelum Indonesia merdeka.


Friday, July 21, 2017

Menjadi Penggiat budaya

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, Salam budaya!

 blog ini ditujukan untuk mengetahui perjalanan penempatan penggiat budaya ditjen kebudayaan Kemdikbud dari awal masuk sampai seterusnya yang ditempatkan di kabupaten Kutai Kartanegara provinsi Kalimantan Timur, Insya Allah. blog ini dibuat juga untuk mengenalkan segala hal terkait pemajuan kebudayaan di Indonesia khusunya di kabupaten Kutai Kartanegara, karena kita tahu di kabupaten ini pernah berdiri kerajaan tertua di Indonesia yaitu kerajaan Kutai Martapura pada abad ke IV Masehi sehingga kabupaten Kukar sendiri mempunyai sejarah dan budaya yang panjang sehingga kita bisa gali lebih dalam untuk kita manfaatkan buat masa depan kita hingga anak cucu kelak.
(sumber gambar: travel.kompas.com)

Pesona Tari Belian Namang Kedang Ipil

Tari Belian Namang merupakan tari yang berkembang di Desa Kedang Ipil yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tari...